Koalisi Adil Makmur, Gado-gado Di Kubu Prabowo




Koalisi Adil Makmur merupakan koalisi pemenangan capres-cawapres nomor urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Penantang Koalisi Indonesia Kerja ini bagai sebungkus gado-gado. Bagaimana tidak, dari 800 nama anggota tim pemenangan pusat di dalamnya, ada nama-nama yang tadinya berseberangan secara politik dan kepentingan. Ada juga yang sebelumnya tercatat sebagai penentang Prabowo. Prabowo sendiri mengakui bahwa koalisi yang mengusungnya ini sangat aneh.

Misalnya, tercatat nama Rachmawati Soekarnoputri, yang notabene adalah putri Soekarno. Rachma yang dahulu adalah salah satu pentolan Partai Nasional Demokrat kini beralih ke Gerindra. Lantas ada Titiek Soeharto, putri kedua Soeharto. Bagi yang paham bagaimana sejarah kedua keluarga ini di masa lalu, pasti tidak menyangka bahwa keduanya akan duduk di posisi yang sama: mendukung Prabowo. Selain itu ada juga nama-nama seperti Amien Rais  dan Shohibul Iman. Dua nama yang dahulu masuk ke dalam daftar orang-orang yang  berseberangan dengan Prabowo. Karena itulah Prabowo mengatakan bahwa koalisi ini aneh. Gado-gado. Karena yang tadinya berseberangan kini malah bersama.

Terlepas dari kesan gado-gado tadi, tantangan berikutnya bagi Koalisi Adil Makmur adalah kesanggupan mereka mewujudkan visinya. Seperti yang dilancarkan oleh kubu Jokowi, bahwa 'adil makmur' sudah ketinggalan zaman. Sejak awal kemerdekaan, cita-cita Indonesia adalah keadilan dan kemakmuran. Hingga koalisi ini lebih seperti angan-angan. Berbeda dengan nama Koalisi Indonesia Kerja yang merupakan implementasi dari cita-cita adil dan makmur tadi. Kesannya Koalisi Adil Makmur masih berkaca pada tahun-tahun awal Indonesia terbentuk, sementara Koalisi Indonesia Kerja melihat ke masa depan.

Tidak mudah mewujudkan visi tersebut, sekaligus memenangkan Prabowo-Sandi. Karena selain visi yang memihak rakyat, tim pemenangan dan juru bicara koalisi juga harus membersihkan nama Prabowo dari berbagai sentimen negatif selama masa kampanye Pilpres kali ini. Sebut saja dari kasus Bahar bin Smith, komentar Prabowo yang dituduh menyepelekan profesi tukang ojek, sampai pernyataan 'Indonesia punah' yang kontroversial itu. Sementara Jokowi sebagai incumbent terkesan lebih adem ayem dan cenderung pasif dalam kampanye. Tim pemenangan Jokowi lebih memilih cara kampanye yang lebih pribadi, sedangkan kubu Prabowo-Sandi dengan kampanye terbuka. Berbeda dengan kampanye Pilpres empat tahun lalu, di mana kedua kubu sama-sama agresif dan saling serang kelemahan masing-masing.

Di tengah kebutuhan rakyat akan perubahan kondisi negara, Koalisi Adil Makmur tetap harus bekerja keras. Walaupun jika dilihat secara umum ada banyak tokoh yang mendukung Prabowo-Sandi (termasuk Kwik Kian Gie yang merupakan ekonom mumpuni dan mantan pentolan PDI-P), jangan sampai koalisi ini hanya sekedar 'numpang' semata. Karena sedang hangat wacana 2019 ganti presiden, misalnya. Belum lagi masalah internal di dalam Tim sukses kampanye Prabowo-Sandi. Setelah Partai Demokrat dianggap tidak bersikap loyal pada koalisi dengan Prabowo, maka internal koalisi Adil Makmur juga dipandang rentan perselisihan. Walau Edy Baskoro Yudhoyono duduk di posisi direktur Pengembangan Kader di koalisi ini, tapi Demokrat yang membebaskan
kadernya untuk memilih Jokowi-Ma'ruf juga dipandang tidak konsisten.

Masyarakat tinggal melihat, mana yang lebih solid di antara dua koalisi ini. Jangan sampai konflik internal dan ambisi memenangkan pertarungan Pilpres 2019 malah menjadi pekerjaan utama. Karena sesuai namanya, koalisi ini seharusnya memang menjadikan kemakmuran bangsa sebagai tujuan. Memenangkan Pilpres hanya sarana saja. Jangan sampai terbalik, malah mengesampingkan tujuan dan visi utama, menghadirkan keadilan dan kemakmuran untuk rakyat Indonesia demi memenangkan pemilihan presiden.
Diberdayakan oleh Blogger.